08 Desember 2009

Nihil


Malam ini para pecundang tidur, atau berbaring terbelalak dan melipat tangan: penari yang pincang, pahlawan yang cedera, seniman yang disiakan; mereka mengungsi dari tanah terkoyak, di mana mimpi mati seperti cinta dalam tangan.

Sementara di luar jaman baru itu bocah-bocah tersesat dan iblis bermain tepat di depan rumah kita. Tuhan baru menyatakan sumpahnya menelan bulat-bulat –tanpa mengunyah, membersihkan tanah dari belulang yang menghitam dan menyiapkan sepuluh juta ranjang di neraka. Karena cepat atau lambat kita semua akan datang.

Dalam bising ini, lidah sunyi yang menyiksa, terikat kata yang tak terucap, lagu yang tak pernah disenandungkan. Janji yang lebih sering diabaikan--bukan diingkari, terkunci dalam ruangan yang takkan pernah terbuka. Dan tak seorangpun di bumi ini yang bisa dapatkan apa yang ia mau. Dan itu indah, atau sekedar mendekati.

Kita akan mencengkeram sesal, membungkam yang lainnya, memotong hati dari dada kita dan kita berjalan terus, mata terpejam, sunyi, beriringan menuju tanah yang dijanjikan oleh penipu.

Ketika pendahulumu kehilangan kepalanya atau menjual jiwanya dan melayani ular sebagai dewa, mengukir ulang dunia seperti yang diidamkan, sementara sisanya mengalihkan pandangan, kita akan menyalakan api dalam hati dengan gairah yang takkan pernah bisa terbeli untuk menangkap pagi dari terkaman malam –menculik sang mati dan menghidupkannya.

takadakata
takadasentuhan
takadatidur
takadapercaya
takadaharapan
takadakeyakinan
takadatempatistirahat

Dari kenangan masa kecil dalam buaian orang asing sampai kamar rumah sakit, sel penjara dan pantai yang jauh. Tak berumah, tak berhati, tak tenang, tak berdiri, tak hidup, tak bercinta. Kurang, kurang dan kurang.

Jika pagi datang terlambat kali ini, mentari yang kacau akan terbit untuk mencari jemari yang tercekam erat dalam kulit yang mengelupas oleh mimpi yang dibangun dari debu dan akhirnya mati. Mati di tanah kematian –kau bisa menyebutnya bunuh diri, sebagaimana aku teriak demi secercah fajar. Dan ia datang di semua ufuk, bagai awan mengumpul, menjegal pintu untuk menyumpalnya.

Dekatkan telinga ke hati akan kau dengar, dalam dada sendiri, detak-detak berjalan.

Tutuplah
tak ada yang suci
tak ada yang murni
tak ada yang pasti
tak ada yang bebas
di sini
dan di dunia ini tak ada yang aman
tak ada yang adil
tak ada yang benar di dunia ini
dalam hidup yang bisa kuandalkan
dan pagi pun terlambat menyapa.

Susu asam berwarna hitam yang kita minum bersama roti bakar di suatu senja, dalam kesunyian yang berkumpul ketika malam datang –ketika kita menulis puisi cinta di atas jasad yang kelak mati, mencerna kebanggaan dari bisa dalam menu sehari-hari, membasuh kesadaran dari air mata sang pemerkosa, dan menjejak kenikmatan di pinggiran rasa sakit. Kau pun mengoceh tentang hukum dan hak yang saat ini tak kupercaya, tak kurasa.

Akan kuludahi kembali wajahmu –keturunan terakhir ras iblis. Kita semua iblis di tempat ini. Berikan saja aku sejumput rasa.


(Taufan Ishmael)

29 Oktober 2009

Panoptikon


“Ia datang!”

Ia datang bagai mempelai berdarah dari kamar. Langkahnya berawal dari kerangkeng, meniti anak tangga menuju akhir.

Bagimu yang memilih rantai neraka bagaikan surga. Terkapar di bawah tatapan mereka, potongan dirimu takkan pernah mencukupi. Itulah semua yang bisa dicuri. Mudah jika kau tak pernah merasa: Apa kau menaklukkan mimpi buruk, menyingkatnya hingga habis dan menawarkan untuk berbagi sebuah tempat di bawah bayang pisau pemenggal? Apa kau diberkati dalam detik tanpa nyawa ini?

Aku tersedak lingkaran kebajikanmu. Menatap dunia yang tak pernah kita kenali dari balik jeruji. Tersesat dalam kota, diacuhkan kerumunan. Mereka di sekelilingmu terikat dan tercekik, saling mencekik, tersandera, sesak nafas dalam Panoptikon. Memaknai batas, dikutuk hidup, tak ada rahasia yang luput dari matanya. Yang kaupikir berdetak ada dalam hatinya, mengingkari semua cipta. Ketiadaannya mengecup pahit.

Aku akan menjegal celah. Tak ada tempat untuk takut bagi setiap lutut yang membungkuk. Aku akan menari di bawah bayang pisau pemenggal yang mengeluarkan ritme keringatnya bagi setiap kepala yang tidak tertunduk. Satu demi satu dihakimi, “Apa kau suci dan bersih?” Satu persatu.

Suatu hari akan ada yang bangkit mendaki langit dan merobohkan menara kerajaan Tuhan. Patahannya meniadakan kekangan. Dalam singgasana mesin kematian tak ada ruang gerak, hidup dalam ketakutan.

Sampai tiba saatnya nanti roda berhenti berputar, saluran mengelabui haluan, cahaya meredup, kemudian mati, gelap dan bangunan mulai menghembus nafas api, akan kusambut secercah terang!


(Taufan Ishmael)



...Bahkan Che Guevara™ pun Terus Berevolusi dari Dalam Plaza Senayan©


Bangunan mentereng itu bernama Plaza Senayan
tempat komoditas dan hasrat bercumbu mesra
di dalamnya ada sebuah toko bernama Cherokee
di mana harga jual bisa jauh melampaui biaya produksi

Sangat hebat sampai-sampai kamerad Che rela datang
ribuan kilometer dari hutan Bolivia terakhir ia terlihat
kini brewoknya menghiasi imej fancy serba merah itu
militansinya senilai dengan beberapa lembar senyum Soeharto

Che bukan lagi hanya seorang revolusioner impor
perjuangannya ikut membahasakan diri dalam akumulasi
sekarang ia seorang anak yang kualat pada bapaknya
diadopsi produsen berhala yang dulu jadi antitesa idenya

“Hasta La Victoria Siempre!” tidak segalak dulu lagi
sekarang semakin 'mengancam' malah bikin kantong gendut
teknologi duplikasi bikin ‘revolusi’nya semakin ‘permanen’
setidaknya di tangan anak genit yang mengacungkan tangan kiri


01 Juli 2009

Selembar Manifesto Kesunyian


Seorang lelaki tua hidup di satu kota kecil yang memiliki sebuah pabrik. Pabrik tersebut mengeluarkan bunyi gemuruh sepanjang pagi, siang dan malam. Hampir-hampir tak mampu mendengar suara apapun selain gemuruh pabrik tersebut apabila berada di dekatnya. Orang-orang di kota kecil itu harus berteriak-teriak sekuat tenaga apabila mereka hendak berbicara dengan sesamanya, banyak dari mereka termenung, membayangkan betapa kehidupan masa kecil mereka yang indah di kota kecil itu yang kini telah hilang. Mereka menyetel volume pada posisi maksimum saat mereka ingin mendengarkan musik; mereka membunyikan alarm jam sekeras ledakan dinamit saat mereka harus bangun tepat pada waktunya. Tak ada lagi satu ruang atau momen pun yang dapat lolos dari ledakan-ledakan bebunyian yang semakin beradu keras satu sama lain.

Hanya lelaki tua itu, yang masih menjadi seorang anak kecil saat pabrik tersebut belum dibangun. Yang masih ingat bagaimana caranya berjalan, berpikir, dan hidup dalam kesunyian. Ia berusaha untuk menerangkan kepada orang lain di sekitarnya, akan tetapi tak seorangpun dapat mendengarkan suaranya yang lirih. Ia berusaha merenungkan apa yang harus ia lakukan untuk menghilangkan kebisingan tersebut, tetapi ia tak mampu memfokuskan pikirannya karena kebisingan yang sangat mengganggu. Ia menyumbat lubang telinganya dengan kapas dan wax, menekan kepalanya ke bantal--tak satupun yang berhasil menyelamatkannya dari kebisingan. Akhirnya, digerakkan oleh rasa marah yang diakibatkan dengungan dan gemuruh yang dikeluarkan oleh mesin di pabrik secara konstan, jeritan sirine, deru roda-roda dari truk-truk pabrik yang beradu dengan jalanan, teriakan dan jeritan-jeritan para tetangganya, ia meraih sebuah martil besar dan berjalan menuju pusat kota kecil tersebut, dimana pabrik sumber kebisingan itu berdiri. Ia memanjat, melewati kawat berduri di tembok pagar pabrik, mengandalkan kemampuan fisiknya yang mulai melemah dimakan usia, menuju pintu belakang pabrik yang tak terjaga. Pintu tersebut tak terkunci, dan ia masuk; tetapi seorang penjaga pabrik melihat gerak-geriknya dan memutuskan untuk mengikutinya.

Lelaki tua tersebut menemukan dirinya berdiri di hadapan sebuah mesin raksasa yang menjerit-jerit, gelombang hantaman martilnya menimbulkan sebuah ritme yang memekakan telinga berkompetisi dengan jeritan mesin. Dikejutkan oleh ukuran raksasa mesin di hadapannya, hampir tersihir, ia berjuang menghancurkannya. Pipa demi pipa, sekrup demi sekrup, gelombang hantaman martil melayang tak henti-henti. Saat ia mulai terlihat hendak menghancurkan mesin utama, sang penjaga yang sedari tadi telah menguntitnya, yang tampak menyeramkan berkat seragam dan mengenakan penutup telinga yang besar, meraih tubuhnya dengan mudah, menyeretnya pergi.

Lelaki tua tersebut dikirim ke penjara yang berada di pinggir kota. Halaman penjara tersebut bergaung setiap siang dan malam akibat suara yang ditimbulkan oleh para narapidana. Dering bel, pintu besi yang dibanting, dan gemerincing kunci di ikat pinggang sipir; tetapi untuk pertama kalinya ia tak merasa terganggu dangan semua suara tersebut: momen-momen yang ia habiskan di dalam pabrik, di hadapan mesin, telah menulikan kedua telinganya. Dalam kedamaian baru yang ia temukan kini, ia tuliskan sebuah manifesto tentang kesunyian dalam selembar kertas lusuh yang ia temukan dalam penjara. Yang pada saatnya nanti, akan dibaca oleh jutaan orang dan dibisikkan dari telinga ke telinga tanpa henti. Tanpa henti, bahkan juga dalam ratusan tahun setelah kematian sang lelaki tua tersebut.


(Taufan Ishmael)