01 Juli 2009

Tentang


Sore ini, lagi aku jatuh cinta untuk kesekian kalinya.
Bukan tentang si Cantik nan Liar dari selatan,
si Gagah yang menggentarkan nyaliku,
atau si Pemalu yang aku lihat dari kamar sang pelukis.
Tapi si Anggun yang mengisi rongga jiwaku hari ini
dengan senyum kecil yang merona dari utara.

"Ada yang datang dan ada yang pergi.
Dan ada yang datang
dan tak ingin melepasnya untuk pergi."
Itu pikiran yang mereka lemparkan untuku.

Tetapi keempat cinta itu tak mampu mengisi hatiku
yang masih sangat begitu luas dan siap di singgahi yang lainnya.
Biar bagaimanapun aku juga tak mau
membiarkan cintanya terbagi kepada orang lain,
apalagi orang jahat.


Karna aku takut akan...

Keliaran yang nanti berubah menjadi jinak.
Sebab cinta itu, penaklukan-katanya...


Kegagahan yang nanti akan menjadi lemah.
Sebab mencintai itu, memiliki-katanya...


Si Pemalu menjadi arogan dan ambisius.
Sebab dicintai harus menjadi lebih baik-katanya...


Atau si Anggun hanya akan menjadi fabel.
Sebab cinta adalah sebuah sejarah...


(Teguh Damaraka)

02 April 2009

Bunga dan Tembok

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri

Jika kami bunga
Engkau adalah tembok
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji

Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!
Dalam keyakinan kami
Di manapun – tirani harus tumbang!

(Wiji Thukul)

03 Maret 2009

The Warrior Wind


Once more the wind leaps from the
sullen land
With his old battle-cry.
A tree bends darkly where the wall
looms high;
Its tortured branches, like a grisly hand,
Clutch at the sky.

Gray towers rise from the gloom and
underneath—
Black-barred and string—
The snarling windows guard their
ancient wrong;
But the mad wind shakes them, hissing
through his teeth
A battle song.

O bitter is the challenge that he flings
At bars and bolts and keys,
Torn with the cries of vanished centuries
And curses hurled at long-forgotten kings
Beyond dim seas.

The wind alone, of all the gods of old,
Men could not chain.
O wild wind,
brother to my wrath and pain,
Like you, within a restless heart, I hold
A hurricane.

The wind has known the dungeons of
the past,
Knows all that are;
And in due time will strew the dust afar,
And, singing, he will shout their doom
at last
To a laughing star.

O cleansing warrior wind, stronger
than death,
Wiser than he may know;
I smite these stubborn walls and lay
them low,
Uproot and rend them with your
mighty breath—
Blow, wind, blow, blow!

(Ralph Chaplin)
dari An Anthology of Revolutionary Poetry

04 Januari 2009

Tuhan Menciptakan Dosa Karena Surga Adalah Tempat Yang Sempit


Mungkin Dia kekurangan duit buat beli lahan yang lebih gede
Atau supaya para malaikat nggak kewalahan mengawasi warganya
Dia nggak mau populasinya membengkak melebihi kapasitas
Dia nggak mau taman firdaus itu jadi kota Jakarta yang kedua

Makanya kamu musti lulus ‘fit and proper test’
biar bisa masuk ke sana
Kalau kamu ‘ramah’ (rajin menjamah),
takutnya nanti bidadarinya kabur semua
Kalau kamu berdoa pake pantat,
tangan kamu malah bikin grafitti lagi
Kalau nggak begitu,
buat apa Tuhan menciptakan Rhoma Irama dan FPI?

Atau mungkin kita demo aja menuntut perluasan kerajaan surga
Pake aja lahan neraka, biar penghuninya bisa eksodus bareng kita
Supaya kita nggak usah ngabisin waktu lagi
buat ibadah dan berdoa
Kalau nggak dikasih,
kita akan kudeta dan mendeklarasikan republik

Hari gini...
Kok masih ada aja ya
yang masih mau make sistem monarki kayak gitu?!